Festival Di Korea

Sistem penanggalan atau kalender Korea didasarkan pada kalender lunisolar. Kalender Korea dibagi dalam 24 titik putaran (jeolgi) yang masing-masing terdiri dari 15 hari dan digunakan untuk menentukan masa tanam atau panen pada masyarakat agraris pada zaman dahulu, namun pada saat ini tidak digunakan lagi. Kalender Gregorian diperkenalkan di Korea tahun 1895, tapi hari-hari tertentu seperti festival, upacara, kelahiran dan ulang tahun masih didasarkan pada sistem kalender lunisolar.

 

NEGERI Ginseng Korea Selatan nampaknya benar-benar memahami pentingnya melestarikan kekayaan sejarah dan budaya. Ini terlihat dari berbagai festival yang kerap diselenggarakan setiap tahunnya. Beberapa festival itu telah menjadi atraksi wisata tersendiri, dan pastinya layak untuk merencanakan perjalanan saat festival-festival itu berlangsung.

Festival terbesar di Korea antara lain:

 

  • Seollal

hari pertama dari tahun bulan yang baru, yang jatuh kira-kira pada akhir Januari atau awal Februari pada kalender matahari. Seluruh keluarga berkumpul pada hari itu. Dengan berpakaian Hanbok atau pakaian terbaik mereka, seluruh keluarga melaksanakan upacara menghormati roh leluhur. Sesudah upacara, anggota keluarga yang lebih muda memberikan penghormatan secara tradisional dengan cara membungkuk dalam-dalam kepada anggota yang lebih tua keluarga yang dinamakan sebae.

 

  • Daeboreum

festival bulan purnama pertama. Pada hari libur ini, para petani dan nelayan berdoa meminta hasil panen dan tangkapan ikan yang melimpah, dan rumah tangga biasanya mengungkapkan keinginan untuk mengalami tahun yang penuh keberuntungan dan terhindar dari nasib buruk dengan cara mempersiapkan makanan istimewa berupa sayur-sayuran yang telah dibumbui.

 

  • Dano

festival musim semi. Hari kelima pada bulan kelima tahun bulan, para petani tidak pergi ke ladang dan mengambil satu hari libur untuk mengadakan perayaan bersama untuk menandai selesainya musim semai, sedangkan para wanita mencuci rambut mereka dengan air khusus yang dibuat dengan merebus bunga iris dengan harapan mereka mampu terhindar dari kemalangan.

 

  • Chuseok

festival panen raya atau festival kue bulan. Hari bulan purnama di musim gugur yang jatuh pada hari ke-15 bulan kedelapan kalender bulan, mungkin merupakan hari raya yang paling ditunggu-tunggu bagi rakyat Korea masa kini. Anggota keluarga berkumpul bersama, memberikan penghormatan pada nenek moyang mereka, serta mengunjungi makam leluhur.

 

 

  • Festival lumpur Boryeong (Juli, di Pantai Daecheon)

Selama festival berlangsung, wisatawan dari seluruh dunia akan berdatangan ke Pantai Daecheon untuk mengikuti acara unik bertema serba lumpur. Pengunjung dapat ambil bagian dalam berbagai kegiatan seperti gulat lumpur, seluncur lumpur, dan berenang di bak besar penuh lumpur. Pada malam hari, pesta dilanjutkan dengan pertunjukan musik dan kembang api.

 

  • Festival Ginseng (September, di Goumsan County)
    Festival Ginseng yang secara lokal dikenal sebagai Geumsan Insam Festival, adalah festival terkemuka di Geumsan County yang terletak di Provinsi Chuncheongnam-do. Geumsan sendiri adalah produsen ginseng terbesar di Korea Selatan, jadi tidak mengherankan jika sebuah festival diadakan di sana untuk mempromosikan efek menguntungkan dari ginseng Geumsan.
    Saat festival berlangsung ada berbagai pameran yang berhubungan dengan ginseng, pertunjukan tradisional, serta kontes menyanyi dan menari. Ada juga pekan raya khusus perdagangan ginseng internasional dan berbagai program acara bagi wisatawan internasional.

 

  • Festival kunang-kunang Muju (Juni, di Sungai Namdaecheon)
    Festival kunang-kunang Muju adalah acara ramah lingkungan untuk merayakan keberadaan kunang-kunang yang diadakan di daerah pegunungan Muju yang indah. Di Korea, kunang-kunang asli hanya ada di Sungai Namdaecheon di Muju.
    Kunang-kunang tersebut menonjol tidak hanya sebagai ikon lingkungan alam di daerah itu, tetapi juga dalam cerita rakyat tradisional di daerah sekitarnya. Festival yang dirayakan dengan tema kunang-kunang ini sekaligus mendidik pengunjung akan pentingnya hubungan antara manusia dan alam.

 

  • Festival Budaya Hyoseok (September, di Desa Budaya Bongpyeong)
    Festival Budaya Hyoseok adalah festival unik yang menggabungkan sastra dengan pariwisata. Acara ini diselenggarakan untuk merayakan Bongpyeong, tempat kelahiran Lee Hyo-Seok, novelis Korea terkemuka.
    Festival Budaya Hyoseok berfokus pada salah satu cerita pendek Hyo-Seok yang paling terkenal yaitu “When the Buckwheat Blossoms” dengan latar belakang Bongpyeong. Selama festival berlangsung, pengunjung ditawarkan berbagai kunjungan ke tempat-tempat yang disebutkan dalam cerita.
    Meskipun pengunjung asing mungkin tidak dapat sepenuhnya menikmati arti sejarah, festival budaya ini masih layak dikunjungi jika Anda ingin menikmati keindahan alam Bongpyeong.
Categories: Budaya Korea, Festival Di Korea | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: